Berolahraga adalah cara untuk tetap sehat dan bugar. Sedangkan berorganisasi olahraga adalah cara ikut andil dalam kemajuan olahraga. Dengan melakukan hal ini secara tekun, tentu dapat membawa kita selangkah lebih bermanfaat bagi masyarakat. Olahraga Tinju khususnya adalah jenis aktivitas fisik yang luar biasa yang dapat membantu meningkatkan metabolisme kebugaran juga memberi kontribusi diri pada generasi muda.
Tentu Hal ini membutuhkan individu yang benar-benar peduli dengan tingkat ketekunan dan kesabaran tinggi dalam menjalankannya. Apakah dengan hal itu menyiratkan bahwa mereka yang sibuk bekerja atau orang desa tidak dapat mengambil bagian dalam olahraga tinju?
Berikut adalah 2 mantan petinju yang terlupakan asli Sragen yang menginspirasi dan dapat membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin!
1. Suratno
Pria kelahiran Sragen 30 Agustus 1968 ini kesehariannya adalah sebagai buruh tani. selain itu juga ikut mengabdikan diri dalam kegiatan sosial keagamaan sebagai komandan Banser NU di kecamatan Sidoharjo. Ia mengenal tinju mulai tahun 1985 kala itu tergabung dalam Pertina Karanganyar Jateng. Selama karier bertinju ia sempat menjuarai beberapa kejuaraan di antaranya
Juara 2 kerjurda tintu tegal tahun1987
Juara 3 kejurda tinju di cilacap th 1988
Dan sempat terjun di Tinju profesional di jakarta tepatnya sasana Banteng th 1990
Cita-citanya sebenarnya tinggi kala itu, namun karena faktor ekonomi dimana bertinju saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dengan terpaksa ia berhenti berlatih tinju.
Setelah gantung sarung tinju ia sempat merantau ke jakarta untuk bekerja mulai dari ikut kerja di bank swasta hingga kuli bangunan dan kadang masih ikut latihan tinju di sasana banteng jakarta. Setelah beberapa lama di jakarta ia pindah ke solo untuk jual mie ayam dan sempat jadi tukang becak, hingga akhirnya kembali ke kampung halaman dengan profesi baru sebagai buruh tani. Ia tak menyesal dan tetap bahagia dengan profesinya "sing penting cukup.."ujarnya
Pria yang sudah dikarunia 3 anak ini meski sudah pensiun dari dunia atlet tinju, tapi kecintaannya pada olahraga dan tinju khususnya tidak pernah pudar, dia terus memotivasi adik dan juga ponakannya agar bersemangat dalam berlatih tinju. Dia yakin seiring perkembangan jaman Tinju pasti diterima masyarakat dengan baik. Dan benar saja, berkat berlatih Tinju kini adik dan juga keponakannya mampu lulus dari perguruan tinggi jurusan olahraga dan keduanya sudah mengajar di sekolah wilayah Sragen sekaligus ikut andil dalam pelatihan Tinju di kabupaten Sragen.
"Tinju kuwi hiburan sing menyehatkan, sak repot-repotku nyambut gawe gandeng aku seneng, yo tetep tak luangke, Kadang Yo Tinju- Yo mluku- Yo dadi Banser NU- Yo jagong wong mantu- Yo dolan nggone Anak putu" ujar nya
2. Bekti Narwasto
Pria kelahiran Sragen 26 november 1972 yang berdomisili di
Gandil Rt 35 /16 mojorejo karang malang sragen ini memiliki banyak sekali kesibukan, selain bekerja sebagai security di PT Aroma Sukowati ia masih mampu untuk mengolah sawah dan beternak sapi di rumah.
Mas Ong adalah panggilan yang biasa kita gunakaN setiap hari, menurut pengakuannya ia mulai mengenal tinju sejak tahun 1987 yang kala itu ikut berlatih di sasana sukowati masaran Sragen.
Meski tak banyak prestasi yang diperolah dari tinju tapi semangatnya dalam membina tinju masih sangat tinggi, terbukti hingga kini ditengah kesibukannya ia masih menyempatkan diri untuk hadir ditempat latihan sekedar untuk berolahraga ringan sekaligus memberi motivasi pada petinju-petinju pemula.
"Tinju adalah seni olahraga, kita semua bisa ikut andil dalam membantu memajukannya, yakinlah akan berdampak besar pada generasi muda di sekitar kita" ujar Mas Ong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar